Mengenal Lebih Dekat Kopi Arabika






Kopi merupakan minuman yang sangat diminati di dunia. Hampir semua orang menyukai kopi. Istilah “Coffee Break “ sangat populer di Negara Eropa karena saat itulah orang bisa menikmati kopi menjelang siang. Beda halnya di Indonesia yang hampir setiap waktu minum kopi. 

Indonesia merupakan salah satu Negara pengekspor kopi yang menjanjikan. 5 negara utama tujuan ekspor kopi asal Indonesia adalah Jerman, Amerika Serikat, Jepang, Italia, dan Aljazair (BPS, 2015). Tahun 2015, Indonesia mengekspor kopi sebesar 510.030,4 Ton dengan 821.956,6 Ribu US$. Kopi yang diekspor yaitu kopi Arabika dan kopi Robusta. Produksi kopi di Indonesia tahun 2014 yaitu 170.185 Ton Kopi Arabika dan 473.672 Ton Kopi Robusta (Kementan 2014). Perbedaan produksi sangat jauh, karena Kopi Arabika butuh lokasi khusus untuk pertumbuhannya. 

Zona terbaik pertumbuhan kopi Arabika adalah antara 200 LU dan 200 LS. Sebagian besar daerah kopi di Indonesia terletak antara 0 - 100 LS yaitu Sumatera Selatan, Lampung, Bali, Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan dan sebagian kecil antara 0 - 50 LU yaitu Aceh dan Sumatera Utara. Unsur iklim yang berpengaruh terhadap budidaya kopi Arabika adalah elevasi (tinggi tempat), temperature, tipe curah hujan, kelembaban udara serta angin (Sihaloho, 2009).

Ketinggian tempat yang sesuai untuk pertumbuhan kopi Arabika berada pada sekitar 1.000 – 1.700 meter di atas permukaan laut (dpl) . Jika berada pada ketinggian < 1000 meter dpl, maka kopi Arabika akan mudah terserang penyakit karat daun (Hemileia vastatrix), sedangkan jika berada pada > 1.700 meter dpl akan mengakibatkan produksi kopi Arabika menjadi tidak optimal karena pertumbuhan vegetatif lebih besar dari generatif (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

Suhu merupakan faktor iklim yang paling penting yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tanaman kopi. Kopi Arabika dapat menahan fluktuasi suhu, jika tidak terlalu ekstrim. Rata-rata suhu yang ideal berkisar antara 15oC dan 24oC meskipun dapat mentolerir suhu jauh di bawah atau di atas batas-batas untuk periode pendek. Suhu yang lebih tinggi dapat menyebabkan keguguran bunga dan pembentukan buah berkurang sementara, pertumbuhan menjadi lambat, kerdil dan tidak ekonomis, produksi cabang sekunder dan tersier menjadi tinggi (Hiwot, 2011).

Menurut Tim Karya Tani Mandiri (2010), curah hujan minimal untuk pertumbuhan dan perkembangan kopi adalah 1000 – 2000 mm / tahun, sedangkan pola hujan yang optimal bagi pertumbuhan tanaman kopi Arabika adalah rata – rata 2000 – 3000 mm / tahun dengan rata-rata bulan kering 1-3 bulan (Tim Karya Tani Mandiri, 2010).

Tanaman kopi Arabika menghendaki tanah yang memiliki lapisan atasnya dalam (± 1,5 m), gembur, subur, banyak mengandung humus dan bersifat permeable, atau dengan kata lain tekstur tanah harus baik. Tanah yang struktur / teksturnya baik adalah tanah yang berasal dari abu gunung berapi atau yang cukup mengandung pasir. Tanah yang demikian pergiliran udara dan air di dalam tanah akan berjalan dengan baik (Tim Karya Tani Mandiri, 2010). Struktur tanah yang memungkinkan drainase baik adalah properti yang paling penting untuk pertumbuhan tanaman kopi Arabika. Ini adalah kenyataan bahwa tanaman kopi Arabika tidak bisa mentolerir tanah yang tergenang air dan akan mengurangi hasil dengan jumlah yang besar dan membunuh pohon kopi jika berkepanjangan (Hiwot, 2011). 

Kopi Arabika umumnya ditemui tumbuh dan berproduksi baik di daerah gunung yang didominasi jenis tanah Andisol, Dystropepts, dan Humitropepts (Inceptisol), sedikit pada tanah Hapludults (Ultisol). Melihat kondisi areal kebun kopi umumnya di daerah hulu, yang merupakan daerah stabilisator sumberdaya air. Tingginya curah hujan dan kemiringan lereng yang curam menyebabkan harus adanya perhatian khusus untuk pertanian tersebut, terutama ancaman bahaya erosi (Karim, 2007).

Kopi Arabika disukai karena rasanya yang ada asamnya, beda dengan kopi Robusta yang mempunyai rasa agak pahit. Penjelasan diatas menunjukkan bahwa untuk budidaya kopi Arabika perlu memperhitungkan dengan baik. Tapi dengan menjamurnya café, angkringan, restoran, atau warung yang menyediakan kopi, pasti kopi akan selalu dicari. Maka dari itu, bisnis kopi kian menjanjikan.


Referensi:
Hiwot H. 2011. Growth and physiological response of two Coffea arabica L. population under high and low irradiance. Thesis. Addis Ababa University.
Karim A, US Wiradisastra, Sudarsono, S Yahya. 2012. Pengelolaan lahan kopi arabika gayo berbasis satuan lahan dan hubungannya dengan indikasi geografis. Makalah pada Seminar: balanced nutrition and sustainable soil fertility management in arabica coffee production in North Sumatera and Aceh, Medan.
Sihaloho TM. 2009. Strategi Pengembangan agribisnis Kopi Di kabupaten Humbang Hasundutan Sumatera Utara. Skripsi. Bogor(ID): Fakultas Pertanian, Institus Pertanian Bogor.
Tim Karya Tani Mandiri. 2010. Pedoman budidaya kopi. Bandung(ID): CV. Nuansa Aulia.
0